Minggu, 26 Oktober 2014

Pengaruh Metode Amtsilati Terhadap Pembelajaran Kitab Salaf Santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Batuceper Tangerang


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam tradisi intelektual Islam untuk menyebutkan istilah kitab karya para ulama itu dibedakan berdasarkan kurun  waktu atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab salaf / klasik (al-kutub al-kodimah), sedangkan   katagori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-‘ashariyyah).
Di kalangan Pondok  Pesantren sendiri di samping istilah kitab kuning, terkenal pula istilah kitab salaf  (al-kutub al-qodimah ) untuk  menyebut  jenis kitab yang  sama, bahkan karena tidak dilengkapi dengan sandangan (syakal),kitab kuning juga   kerap disebut oleh kalangan pondok pesantren sebagai “kitab gundul” dan  karena rentang waktu sejarah yang sangat jauh dari  kemunculannya, sekarang tidak sedikit yang menjuluki kitab kuning ini dengan sebutan “ kitab kuno”. [1]
Kitab salaf adalah merupakan karya ilmiah para ulama salafusshalihin (intlektual Islam  masa lampau) yang di dalamnya terkandung berbagai disiplin ilmu.
Namun demikian, kandungan utama di dalam kitab salaf adalah ilmu-ilmu agama yang meliputi Tauhid,  Tasawuf ,Tafsir, Hadits, Fiqih, Tarikh dan lain lain,yang kesemuanya itu merupakan kitab-kitab yang berfungsi sebagai sarana untuk memahami dan mendalami  ajaran Islam  (Tafaqquh fi al-Diin).
Karya ilmiah para ulama Salafus Shalihin tersebut merupakan  penjabaran dari apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Para ulama salafus Shalihin dengan  kelebihan  dari  berbagai  disiplin ilmu yang  mereka miliki  yang telah  mereka  tuangkan dalam  karya-karya mereka  sangatlah  memudahkan kita dalam  memahami   dan  mendalami  makna dan kandungan   Al-Qur’an dan  hadits,  yang  merupakan  wujud  nyata  dari  Tafaqquh  fi  Al-Diin.
Dalam  hal  Tafaqquh fi   Al-Din  ALLAH  SWT.   Berfirman   dalam  Al- Qur’an :
وما كا ن المؤمنون لينفروا كا فة فلولا نفر من كل فرقة منهم طئفة
ليتفقهوا في الدين ولينذروا قو مهم اذا رجعو اليهم لعلهم يحذرون
Artinya :   Tidaklah  sepatutnya  bagi  orang  orang yang  beriman itu pergiSemuanya ke meda perang,mengapa tidak  perg i dari tiap tiapGolongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam Ilmu  pengetahuan  mereka  tentang  agama  dan untuk memberiperingatan  kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadaNYA supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS-AL-Taubhah 122)[2]

Dan Nabi  Muhammad  SAW Bersabda :           
عن معا وية رضي الله عنه قال قال رسول الله صلي الله عليه
من يرد الله به خيرا يفقه في الدين(متفق عليه)
 Artinya:   Dari Muawiyah Ra.Berkata ,bersabda Rosululloh saw, “Barang siapa yang Alloh kehendaki Kebaikan kepadanya maka ia difahamkan dalam agama ini (HR Bukhori –Muslim)  [3]     
Pengalaman sekarang menunjukan bahwa arus informasi global hampir seluruhnya tidak berimbang. Lebih banyak  informasi yang datang dari budaya barat ke budaya Islam dari pada sebaliknya. Kemungkinan  penyalah gunaan  informasi akan semakin besar, karena berada di luar kontrol dan  penguasaan orang orang Islam Menghadapi era globalisasi  dan modernisasi kalangan pesantren sebagai komunitas yang mendalami agama (Tafaqquh fi Al-Din) merupakan kalangan yang paling lama melakukan reaksi penerimaan. Namun demikian, bukan berarti kalangan pesantren lantas bersikap proteksionis dan apatis terhadap laju perkembangan zaman yang telah dihembuskan oleh modernitas, mereka berpegang teguh pada prinsip adigum .
المحافظة علي قديم  الصا لح والاخد بجد يد الاصلا ح                
 ‘’Menjaga  Tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi-inovasi baru yang lebih baik.” Kalangan  pesantren berusaha memilah-milah  antara  satu persatu  dari  gebyar  modernitas untuk dicari sarinya mana yang bisa digunakan mana yang tidak.[4] Dalam hal ini, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang gigih mempertahankan   Tradisi konservasi terhadap tradisi yang dilakukan  tanpa sikap reserve, bahwa tradisi mengandung segala yang baik, sehingga kebutuhan untuk mengadopsi yang modern dimungkinkan sejauh itu lebih baik dari apa yang terdapat dalam tradisi itu sendiri. Saat ini,pesantren bertumbuh dengan pesat. Ekspansi pesantren juga bisa dilihat dari pertumbuhan pesantren yang semata hanya Rural Based Instrution  kemudian menjadi pendidikan  urban. Beberapa pesantren yang termasuk jenis ini di ibu kota Jakarta antara lain pondok pesantren Asshiddiqiyah, Darunnajah, Darulqolam dan lain lain. Bahkan pondok pesantren bukan hanya milik organisasi tertentu tetapi milik umat Islam di dunia.[5]
 Berdasarkan penelitian pendahuluan di jumpai  bahwa  Pondok  Pesantren  Ashiddiqiyah  yang walaupun  keberadaannya di tengah kota  tetapi merupakan salah satu pesantren  yang senantiasa  menjaga tradisi kepesantrenannya, yaitu antara lain dengan “mewajibkan” (mengharuskan) seluruh santrinya untuk mempelajari dan mengkaji kitab-kitab salaf yang merupakan karya ilmiah Para Ulama Salafus Shalihin. Dan pembelajaran  kitab salaf  itu merupakan harapan dan kebanggaan Bapak  Pengasuh  yang  mempunyai  Background pendidikan salafi. Namun demikian, fakta di lapangan  masih di temukan ada beberapa santri yang kurang mampu  membaca atau memahami kitab- kitab salaf.
Hal hal tersebut dikarenakan antara lain :
a.       Kurangnya  minat para santri untuk mempelajari  kitab salaf
b.      Kurangnya motifasi dari guru
c.        Kurangnya pengawasan guru
Berdasarkan latar belakang  masalah yang telah disebutkan  diatas, maka penulis akan mengadakan  penelitian  dan membahas   sekripsi   yang   berjudul :
PENGARUH METODE AMTSILATI TERHADAP PEMBELAJARAN KITAB SALAF SANTRI PONDOK   PESANTREN ASSHIDDIQIYAH  2  BATUCEPER   TANGERANG
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas ,penulis dapat mengidentifikasi masalah-masalah dalam penelitian ini, yaitu antara lain  faktor  yang dapat meningkatkan atau melemahkan kemampuan santri  Asshiddiqiyah 2 Batu Ceper Tangerang  dalam memahami kitab salaf.  Masalah–masalah yang dapat mempengaruhi kemampuan memahami kitab salaf tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a.        Kinerja guru
b.      Kedisiplinan santri
c.       Media pembelajaran
C.    Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar masalahan tersebut di atas lebih spesifik, penulis membatasi dan merumuskan permasalahan dengan memberikan penegasan terhadap variabel sebagai berikut :
1.     Pembatasan Masalah 
Agar permasalahan yang penulis bahas tidak melebar dan tidak menyimpang dari permasalahan, dan agar memperjelas objek penelitian , maka penulis membatasi berdasarkan identifikasi masalah yang akan diteliti terbatas pada “PENGARUH METODE  AMTSILATI TERHADAP PEMBELAJARAN KITAB SALAF PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH 2 BATU CEPER TANGERANG .
2.     Rumusan Masalah
Berdasarkan penelitian masalah tersebut di atas ,maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana PENGARUH METODE AMTSILATI  TERHADAP PEMBELAJARAN KITAB SALAF SANTRI PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH 2 BATU CEPER TANGERANG
D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
      Penulis menguraikan  beberapa tujuan penelitian sebagai berikut :
1)      Ingin membuktikan sejauh mana pengaruh pembelajaran metode aMTsilati terhadap pembelajaran kitab salaf  santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2 Batu Ceper Tangerang.
2)      Ingin membuktikan pencapaian target kurikulum, daya serap, prestasi siswa dan prestasi belajar kitab-kitab santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2  Batu Ceper Tangerang .
2.      Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini mengharapkan dapat menjadi masukan secara langsung bagi penulis atau  secara tidak langsung bagi pihak lain yang memerlukan  antara lain sebagai berikut :
1.      Bagi penulis sarana mengembangkan  kemampuan  memahami kitab salaf
2.      Bagi peneliti lain diharapkan menjadi pendorong atau daya tarik dan sebagai masukan  bagi pihak–pihak yang terkait dan dapat di jadikan tolak ukur atau rujukan bagi para peneliti lain yang akan meneliti masalah sejenis
3.      Bagi pesantren dapat memberikan pengetahuan bagaimana strategi pemahaman kitab salaf
E.     Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dan keteraturan dalam penulisan skripsi ini,penulis membagi materinya menjadi 5 bab, dan setiap bab di bagi lagi menjadi beberapa sub bab yang lebih rinci.Adapun sistemstika penulisannya adalah sebagai berikut:
BAB I       :    Adalah pendahuluan, berisikan latar belakang masalah, identifikasi masalah  pembatasan dan perumusan masalah, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan
BAB II     :    Landasan teori  penelitian terdiri dari pengertian pengaruh, pengertian metode aMTsilati, pengertian kitab salaf, kerangka berfikir dan hipotesis.
BAB III    :    Kerangka Metodologi berisikan metode prnelitian, populasi  sampel dan penarikan sampel, instrumentasi penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB 1V  :     Hasil Penelitian, meliputi : Deskripsi Daerah /Lustitusi, Deskripsi Karakteristik Responden, Penyajian Analisis Data, Interprestasi Hasil Penelitian     
BAB V :                      Penutup, meliputi : Kesimpulan, Rekomendasi, Riwayat Hidup


       [1] DEPAG RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren (Ditpekapontren Ditjen Kelembagaan Agama Ulama Departemen Agama : 2003), h.50




       [2] DEPAG RI, AL Quran dan Terjemahnya (Semarang :Toha Putra, 1989)
       [3] Agus Hasan Bashori DKK, Terjemah Riyadussholihin Jilid  2, (Surabaya : Duta Ilmu 2003), h. 448
       [4] Amin Haedari,  Panorama dalam Cakrawala Modern (Jakarta : Diva Pustaka, 2005), h. 40
       [5] H.Rohadi Abdul Fattah Et al. Rekontruksi Pesantren Masa Depan dari Tradisional, Modern hingga Post Modern  (Jakarta : Listafariska Putra April, 2005) h. 21

Pengaruh Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Fiqih Terhadap Aktivitas Ibadah Siswa Di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Tangerang


BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.
Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja.
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. 
Pendidikan memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosiobudaya di mana ia hidup[1]
Pendidikan pada hakekatnya berlangsung dalam suatu proses. Proses itu berupa transformasi pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Penerima proses adalah anak atau siswa yang sedang tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan kepribadian dan penguasaan pengetahuan. Selain itu, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang diperoleh melalui proses yang panjang dan berlangsung sepanjang kehidupannya.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak yang lahir, tumbuh dan berkembang secara manusiawi dalam mencapai kematangan fisik dan mental masing-masing anak. Di dalam keluarga, setiap anak memperoleh pengaruh yang mendasar sebagai landasan pembentukan pribadinya.
Untuk lebih meningkatkan potensi pada diri anak, orang tua tidak hanya mendidik anaknya di rumah, akan tetapi mereka mengirimkan atau menitipkan anaknya ke sekolah agar mampu memenuhi tuntutan zaman sekaligus meningkatkan pendidikan pada anak tersebut.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dan membimbing juga mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individu.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.[2]
Belajar merupakan proses tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi dan situasi (atau rangsang) yang terjadi. Belajar  melibatkan berbagai unsur yang  ada di dalamnya, berupa kondisi fisik dan psikis orang yang belajar. Kedua kondisi tersebut akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajarnya Kiranya masih banyak unsur lain yang dapat disebutkan yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar, antara lain suasana lingkungan saat belajar tersedianya media pendidikan dan sebagainya. Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut perlu mendapatkan perhatian guna menunjang tercapainya tujuan belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk menunjang keberhasilan belajar, maka hendaknya metode pembelajaran yang diterapkan dapat memberikan pengaruh terhadap pembelajaran yang dilakukan. Sebab, dengan metode yang tepat siswa dimungkinkan akan lebih mudah dalam memahami dan menerapkan apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat, karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah Darajat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[3] Di sini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya pribadi yang diinginkan.
Sedangkan metode adalah “suatu cara dan siasat penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran, agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran.[4] Dan menurut Syaiful Bahri Djamarah tentang pengertian metode ialah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses interaksi belajar mengajar, metode diperlukan seorang guru bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan pada ahli pendidikan.[5]
Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan baik agar siswa lebih mudah memahami pelajaran, seorang guru selain harus menguasai materi, dia juga dituntut untuk dapat terampil dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk situasi dan kondisi yang dihadapinya. Seorang guru sangat dituntut untuk dapat memiliki pengertian secara umum mengenai sifat berbagai metode, baik mengenai kelebihan metode maupun mengenai kelemahan-kelemahannya.
Ada beberapa metode yang dikenal dalam pengajaran, misalnya yaitu metode ceramah, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode eksprimen, metode tanya jawab dan sebagainya. Dengan memilih metode yang tepat, seorang guru selain dapat menentukan output atau hasil lulusan dari suatu lembaga pendidikan, juga merupakan keberhasilan lembaga pendidikan, dan juga menjadi pengalaman yang disenangi bagi anak didik.
Oleh karena itu, untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan kreatif dalam mata pelajaran fiqih, guru dapat memilih metode demontrasi, karena dalam pelajaran ini banyak materi yang dapat diterapkan atau dipraktekkan.
Metode demonstrasi adalah cara belajar dengan cara mempragakan atau mempertunjukkan sesuatu dihadapan murid, yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Menurut Aminuddin Rasyad, dengan menggunakan metode demonstrasi, guru telah memfungsikan seluruh alat indra murid,[6] karena proses belajar mengajar dan pembelajaran yang efektif adalah bila guru mampu memfungsikan seluruh panca indra murid.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba mengajukan skripsi dengna judul : “PENGARUH METODE DEMONSTRASI PADA PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP AKTIVITAS IBADAH SISWA DI PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH TANGERANG
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dapat diidentifikasi sebagai berikut :
  1. Bagaimana penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran fiqih di di Pondok Pesantren Assiddiqiyah Tangerang
  2. Pengaruh metode demonstrasi terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap materi-materi bidang studi fiqih
  3.  Apakah metode demonstrasi pada bidang studi fiqih berpengaruh terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantren Assiddiqiyah Tangerang
C.    Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.      Pembatasan Masalah
Dalam skripsi ini, masalah yang diteliti dibatasi pada :
a.   Penerapan metode demonstrasi pada bidang studi fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
b.      Pengaruh penerapan metode demontrasi pada bidang studi fiqih terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
2.      Perumusan Masalah
Dari rumusan masalah tersebut yang hendak dicapai dalam penelitian ini :
a.       Bagaimana bentuk metode demontrasi yang digunakan ?
b.      Bagaimana respon siswa terhadap pelaksanaan metode yang diterapkan?
c.       Seberapa jauh pengaruh metode demonstrasi  pada bidang studi fiqih terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang?
D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Penulis menguraikan beberapa tujuan penelitian sebagai berikut :
a.       Ingin mengetahui penerapan metode demontrasi yang diterapkan guru pada bidang studi fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
b.      Ingin mengetahui pengaruh penerapan metode demontrasi terhadap peningkatan pemahaman siswa pada bidang studi fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
c.       Ingin mengetahui pengaruh penerapan metode demontrasi pada bidang studi fiqih terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
2.      Kegunaan Penelitian
a.       Penelitian ini dapat menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus dapat mengetahui berpengaruh atau tidaknya metode demontrasi terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
b.      Hasil penelitian ini akan menjadi pedoman guru untuk lebih meningkatkan proses belajar mengajar.
E.     Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini dibagi ke dalam lima bab, namun secara keseluruhan bab-bab ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Adapun gambaran sekilas mengenai bab-bab tersebut adalah sebagai berikut :
Bab I           :    Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, sistematika penulisan.
Bab II          :    Metode pengajaran, macam-macam metode pengajaran dalam proses belajar mengajar, pengertian metode demonstrasi, langkah-langkah mengaplikasikan metode demontrasi, kelebihan dan kekurangan, pengertian dan tujuan bidang studi fiqih, ruang lingkup materi fiqih
Bab III        :    Metodologi penelitian meliputi : Tujuan penelitian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.
Bab IV        :    Hasil Penelitian meliputi : Dekskripsi data, analisis data dan interpretasi data
Bab V          :    Penutup meliputi : Kesimpulan dan Saran



       [1] Hera Lestari Mikarsa, Pendidikan Anak di SD, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2008), hal. 1
       [2] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2006), hal. 43
       [3] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), hal. 86
       [4] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hal. 1
       [5] Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya, Usaha Nasional, 1994), hal. 71
       [6] Aminuddin Rasyad, Metode Pembelajaran Pendidikan Agama (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), hal. 8

Mohon Maaf…
Untuk Skripsi Lengkap, Silahkan Donasi/Transfer
Rp. 30.000,-
BCA : An. A.Nasrullah 7020432505
Mandiri : A.Nasrullah 1180006814155
Konfirmasi Ke : 087808818771
Dengan Format : Sudah Transfer Rp. 30.000
Kode Skripsi : PAI-1
 SKRIPSI LENGKAP AKAN DIKIRIM KE E-MAIL