PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Pendidikan
merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya
dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila
kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi
pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai
dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.
Pendidikan yang
diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai
rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang
sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja.
Islam diturunkan
sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah
SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT.
Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan
memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia
pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu
dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan
kepada Allah SWT.
Pendidikan
memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan.
Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal,
yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik,
intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan
serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosiobudaya di mana ia
hidup[1]
Pendidikan pada
hakekatnya berlangsung dalam suatu proses. Proses itu berupa transformasi
pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Penerima proses adalah anak atau siswa
yang sedang tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan kepribadian dan
penguasaan pengetahuan. Selain itu, pendidikan merupakan proses budaya untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia yang diperoleh melalui proses yang
panjang dan berlangsung sepanjang kehidupannya.
Keluarga
merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak yang lahir,
tumbuh dan berkembang secara manusiawi dalam mencapai kematangan fisik dan
mental masing-masing anak. Di dalam keluarga, setiap anak memperoleh pengaruh
yang mendasar sebagai landasan pembentukan pribadinya.
Untuk lebih
meningkatkan potensi pada diri anak, orang tua tidak hanya mendidik anaknya di
rumah, akan tetapi mereka mengirimkan atau menitipkan anaknya ke sekolah agar
mampu memenuhi tuntutan zaman sekaligus meningkatkan pendidikan pada anak
tersebut.
Sekolah merupakan
lembaga pendidikan kedua yang bertugas membantu keluarga dan membimbing juga
mengarahkan perkembangan serta pendayagunaan potensi tertentu yang dimiliki
siswa atau anak, agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia,
sebagai anggota masyarakat, ataupun sebagai individu.
Kegiatan belajar
mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang
menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik
yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi
edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen
pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah
ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.[2]
Belajar merupakan
proses tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi dan
situasi (atau rangsang) yang terjadi. Belajar melibatkan berbagai unsur
yang ada di dalamnya, berupa kondisi fisik dan psikis orang yang belajar.
Kedua kondisi tersebut akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajarnya
Kiranya masih banyak unsur lain yang dapat disebutkan yang dapat berpengaruh
terhadap hasil belajar, antara lain suasana lingkungan saat belajar tersedianya
media pendidikan dan sebagainya. Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut perlu
mendapatkan perhatian guna menunjang tercapainya tujuan belajar sesuai dengan
yang diharapkan.
Untuk menunjang
keberhasilan belajar, maka hendaknya metode pembelajaran yang diterapkan dapat
memberikan pengaruh terhadap pembelajaran yang dilakukan. Sebab, dengan metode
yang tepat siswa dimungkinkan akan lebih mudah dalam memahami dan menerapkan
apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar.
Proses belajar
mengajar akan berjalan dengan baik kalau metode yang digunakan betul-betul tepat,
karena antara pendidikan dengan metode saling berkaitan. Menurut Zakiah
Darajat, pendidikan adalah usaha atau tindakan untuk membentuk manusia.[3]
Di sini guru sangat berperan dalam membimbing anak didik ke arah terbentuknya
pribadi yang diinginkan.
Sedangkan metode
adalah “suatu cara dan siasat penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu
mata pelajaran, agar siswa dapat mengetahui, memahami, mempergunakan dan
menguasai bahan pelajaran.[4]
Dan menurut Syaiful Bahri Djamarah tentang pengertian metode ialah suatu cara
yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses
interaksi belajar mengajar, metode diperlukan seorang guru bervariasi sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru
tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode
mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan pada ahli pendidikan.[5]
Untuk dapat
menyampaikan pelajaran dengan baik agar siswa lebih mudah memahami pelajaran,
seorang guru selain harus menguasai materi, dia juga dituntut untuk dapat
terampil dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk situasi
dan kondisi yang dihadapinya. Seorang guru sangat dituntut untuk dapat memiliki
pengertian secara umum mengenai sifat berbagai metode, baik mengenai kelebihan
metode maupun mengenai kelemahan-kelemahannya.
Ada beberapa
metode yang dikenal dalam pengajaran, misalnya yaitu metode ceramah, metode
demonstrasi, metode pemberian tugas, metode eksprimen, metode tanya jawab dan
sebagainya. Dengan memilih metode yang tepat, seorang guru selain dapat
menentukan output atau hasil lulusan dari suatu lembaga pendidikan, juga
merupakan keberhasilan lembaga pendidikan, dan juga menjadi pengalaman yang
disenangi bagi anak didik.
Oleh karena itu,
untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan kreatif dalam mata
pelajaran fiqih, guru dapat memilih metode demontrasi, karena dalam pelajaran
ini banyak materi yang dapat diterapkan atau dipraktekkan.
Metode
demonstrasi adalah cara belajar dengan cara mempragakan atau mempertunjukkan
sesuatu dihadapan murid, yang dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Menurut
Aminuddin Rasyad, dengan menggunakan metode demonstrasi, guru telah
memfungsikan seluruh alat indra murid,[6]
karena proses belajar mengajar dan pembelajaran yang efektif adalah bila guru
mampu memfungsikan seluruh panca indra murid.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis mencoba mengajukan skripsi dengna judul : “PENGARUH METODE DEMONSTRASI PADA
PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP AKTIVITAS IBADAH SISWA DI PONDOK PESANTREN
ASSHIDDIQIYAH TANGERANG
B.
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
uraian yang dikemukakan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang
akan dibahas dapat diidentifikasi sebagai berikut :
- Bagaimana penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran fiqih di di Pondok Pesantren Assiddiqiyah Tangerang
- Pengaruh metode demonstrasi terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap materi-materi bidang studi fiqih
- Apakah metode demonstrasi pada bidang studi fiqih berpengaruh terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantren Assiddiqiyah Tangerang
C.
Pembatasan dan
Perumusan Masalah
1.
Pembatasan
Masalah
Dalam skripsi
ini, masalah yang diteliti dibatasi pada :
a. Penerapan
metode demonstrasi pada bidang studi fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah
Tangerang b. Pengaruh penerapan metode demontrasi pada bidang studi fiqih terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
2.
Perumusan
Masalah
Dari rumusan
masalah tersebut yang hendak dicapai dalam penelitian ini :
a.
Bagaimana
bentuk metode demontrasi yang digunakan ?
b.
Bagaimana
respon siswa terhadap pelaksanaan metode yang diterapkan?
c.
Seberapa
jauh pengaruh metode demonstrasi pada
bidang studi fiqih terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran
Assiddiqiyah Tangerang?
D.
Tujuan dan Kegunaan
Penelitian
1.
Tujuan
Penelitian
Penulis menguraikan beberapa
tujuan penelitian sebagai berikut :
a.
Ingin
mengetahui penerapan metode demontrasi yang diterapkan guru pada bidang studi
fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
b.
Ingin
mengetahui pengaruh penerapan metode demontrasi terhadap peningkatan pemahaman
siswa pada bidang studi fiqih di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
c.
Ingin
mengetahui pengaruh penerapan metode demontrasi pada bidang studi fiqih
terhadap aktivitas ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
2.
Kegunaan
Penelitian
a.
Penelitian
ini dapat menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus dapat
mengetahui berpengaruh atau tidaknya metode demontrasi terhadap aktivitas
ibadah siswa di Pondok Pesantran Assiddiqiyah Tangerang
b.
Hasil
penelitian ini akan menjadi pedoman guru untuk lebih meningkatkan proses
belajar mengajar.
E.
Sistematika
Penulisan
Dalam penulisan
skripsi ini dibagi ke dalam lima bab, namun secara keseluruhan bab-bab ini
saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Adapun gambaran
sekilas mengenai bab-bab tersebut adalah sebagai berikut :
Bab
I : Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,
sistematika penulisan.
Bab
II :
Metode pengajaran, macam-macam metode
pengajaran dalam proses belajar mengajar, pengertian metode demonstrasi,
langkah-langkah mengaplikasikan metode demontrasi, kelebihan dan kekurangan,
pengertian dan tujuan bidang studi fiqih, ruang lingkup materi fiqih
Bab
III : Metodologi penelitian meliputi : Tujuan penelitian, tempat dan
waktu penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan
data dan teknik analisa data.
Bab
IV : Hasil Penelitian meliputi : Dekskripsi data, analisis data dan
interpretasi data
Bab V : Penutup
meliputi : Kesimpulan dan Saran
[6]
Aminuddin Rasyad, Metode Pembelajaran
Pendidikan Agama (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), hal. 8
Mohon Maaf…
0 komentar:
Posting Komentar